Selasa, 09 November 2010

Kesungguhan Itu Tak Akan Mengecewakan


Muhammad Ihsan Fajar. Tetapi nama populer yang disematkan padanya adalah Ican. Ia pun tak merasa keberatan dengan panggilan itu pada awalnya. Tapi di kelas 3  ia mulai sedikit protes jika ku panggil dengan nama populernya. ”Saya kan sudah dewasa, tidak pantaslah dipanggil dengan nama tersebut, tidak enak lah!”.Ujarnya suatu ketika.

Hidayah dari Syahidnya Seorang Mujahid (Sayyid Qutb)



Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966). Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita: Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami. Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu. Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina. Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Senin, 08 November 2010

Catatan perjalanan ke kampung halaman Nabi saw.

Pertengahan bulan Juli 2010 lalu, Allah memperkenankan hamba-Nya ini berkunjung ke Baitullah dalam rangkaian ibadah umrah, Alhamdulillah. Sebuah perjalanan yang amat berkesan dan tak akan terlupakan.

Perjalanan udara ini adalah yang pertama kali baginya dan sekaligus perjalanan perdana ke luar negeri. Perjalanan ini diawalinya dengan mengurus pembuatan  passpor di imigrasi yang membutuhkan waktu 10 hari kerja dengan biaya Rp. 270 ribu (bisa lebih cepat katanya jika menggunakan jalur dan biaya khusus). Proses selanjutnya adalah mengurus kartu kesehatan (sekaligus disuntik vaksin meningitis). Akhirnya tanggal keberangkatan  yang pasti diperolehnya setelah sempat terjadi pembatalan jadwal keberangkatan pertama dari travel yang mengurus perjalan umrah (ada teman seperjalanannya yang sudah sempat syukuran di lingkungannya padahal esoknya dapat berita perjalanan ditunda minimal sepekan).

Rabu, 03 November 2010

Pertama menulis di Blog

Alhamdulillah. Bersamaan dengan terdengarnya lantunan suara azan sholat Ashar, blog ini lahir. Mungkin bagi kebanyakan orang menulis di blog bukan barang baru tapi... bagi saya ini adalah pengalaman pertama. Dulu dalam pembelajaran sejarah, pengkategorian kahidupan manusia meninggalkan masa pra sejarah adalah dimulainya BUDAYA TULISAN menggantikan budaya bertutur. So... saya baru saja meninggalkan fase pra sejarah itu di dunia cyber.