Senin, 08 November 2010

Catatan perjalanan ke kampung halaman Nabi saw.

Pertengahan bulan Juli 2010 lalu, Allah memperkenankan hamba-Nya ini berkunjung ke Baitullah dalam rangkaian ibadah umrah, Alhamdulillah. Sebuah perjalanan yang amat berkesan dan tak akan terlupakan.

Perjalanan udara ini adalah yang pertama kali baginya dan sekaligus perjalanan perdana ke luar negeri. Perjalanan ini diawalinya dengan mengurus pembuatan  passpor di imigrasi yang membutuhkan waktu 10 hari kerja dengan biaya Rp. 270 ribu (bisa lebih cepat katanya jika menggunakan jalur dan biaya khusus). Proses selanjutnya adalah mengurus kartu kesehatan (sekaligus disuntik vaksin meningitis). Akhirnya tanggal keberangkatan  yang pasti diperolehnya setelah sempat terjadi pembatalan jadwal keberangkatan pertama dari travel yang mengurus perjalan umrah (ada teman seperjalanannya yang sudah sempat syukuran di lingkungannya padahal esoknya dapat berita perjalanan ditunda minimal sepekan).



Persiapan yang dilakukannya menjalang keberangkatan adalah  membaca panduan perjalanan umrah, mencari peta madinah dan mekkah, bertanya kepada kawan yang  sudah pernah berangkat umrah mengenai aktivitas ibadah dan  barang-barang yang menjadi kerperluan standar selama umrah. Ia sangat bersyukur banyak kawannya  yang  membantu tidak sekedar informasi tapi juga barang-barang tertentu yang sangat diperlukan dalam perjalanan umrah. ia mencatat salah seorang koleganya (seorang buru BK ditempat kerjanya) yang sangat membantu persiapan tersebut. Tidak lupa ia mengumpulkan catatan-catatan titipan doa dari kawan-kawannya. Di rumah, sang istri membantu mengepak bawaanya dan tidak henti-henti mengingatkan doa-doa khusus yang diinginkannya termasuk oleh-oleh sepulangnya nanti.

Akhirnya hari keberangkatan tiba. Dengan diantar anak dan istri bersama rombongan dari tempat kerjanya berangkatlah ia melalui bandara Soekarno-Hatta. Naik pesawat garuda. deg-degan juga sih. first time you know! apalagi sempat di hentikan di boarding karena di dalam tas membawa minuman (padahal kata istrinya yang sudah berkali-kali naik pesawat tujuan lokal boleh lho). jadi lah sebotol jus itu dihabiskannya di samping petugas yang memeriksanya (sayang kalau ditinggalkan) dan setelah menunggu hampir 1 jam perjalanan dengan pesawat dimulai. Alhamdulillah keberangkatan dengan pesawat berjalan dengan lancar, tapi penatnya bukan main karena selama hampir 9 jam hanya duduk di bangku. Selama waktu itu ia mengisinya dengan tilawah Al Qur'an, membaca buku dan majalah, menonton tv dan tidur.

Tiba di Jeddah sekitar pukul 10 malam  waktu setempat dan dilanjutkan dengan pemeriksaan passpor dan pengambilan barang bawaan. Alhamdulillah lancar meskipun salah seorang kawan tidak dapat menemukan seluruh tas bawaannya yang baru diketahui kemudian terbawa ke mekkah. Perjalanan dari Jeddah dilanjutkan dengan menggunakan Bus ke Madinah selama hampir 5 jam. coba menghubungi tanah air tapi diingatkan kawan sebelum memiliki nomor lokal sebaiknya membatasi penggunaan pulsa karena biayanya mahal.

Keesokan paginya tibalah rombongan di Madinah Munawarrah, Kota Nabi saw.  Subhanallah, akhirnya tibalah kakinya menjejakkan ke tanah dimana hijrah Nabi saw. dan para sahabat ra. dulu dilakukan.
Saat itu Madinah sudah masuk musim panas. panasnya luar biasa. Tempat yang paling nyaman adalah Masjid Nabawi, bahkan jika dibandingkan dengan hotel yang jaraknya hanya dua puluh meter dari gerbang masjid. Selama 4 hari di Madinah waktunya diisi dengan beribadah di Masjid dan rihlah di dalam dan di seputar kota Madinah dengan pemandu dari pihak travel seorang pemuda bujangan yang sedang menuntut ilmu di Mekkah. Ia berasal dari NTB dengan logat khasnya terutama ketika mengucapkan huruf "d".

Tidak akan cukup kata-kata menggambaran keindahan Masjid Nabawi, Masjid yang awalnya hanya seluas lapangan bola basket sekarang sudah  menjadi 62.807 meter persegi dilengkapi dengan pintu-pintu masuk dari samping, marmar anti panas, pilar-pilar yang dihiasi dengan berbagai seni yang sesuai dengan Islam dan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an. 6 buah menara utama setinggi 104 meter dibangun dan akan diperlengkapi dengan cahaya laser yang dapat dilihat dari jarak 50 km. Pintu-pintunya berjumlah 81 buah pintu masuk, ditambah 8 pintu masuk ke lantai dasar untuk maintenance. Dibangun pula 18 buah tangga dan 4 buah eskalator (tangga berjalan) untuk dapat naik ke lantai dua. Tak lupa untuk disebutkan fasilitas payung raksasa yang dapat dibuka dan ditutup dihalaman masjid. Selain itu bertebaran kran-kran air zam-zam di lorong-lorong dalam masjid yang di datangkan dari mata airnya di mekkah. tersedia air zam-zam dingin juga lho.

Makam Nabi dan kedua sahabat beliau yang menjadi khalifah sesudahnya Abu Bakar As Shiddiq dan Al Faruq Umar ibn Khaththab terletak di kamar beliau di bawah kubah hijau. Tempat itu menjadi target kunjungan seluruh jama'ah. mereka berjalan berbaris perlahan untuk sampai ketempat tersebut. beberapa orang askar (polisi) menjaga di antara makam dan jama'ah untuk mengatur urutan jamaah dan sekali-kali mengingatkan jama'ah mengenai adab-adab berziarah ke makam nabi.   Di antara mimbar dan kamar Nabi  ada sebuah taman dari taman-taman surga  begitu Rasulullah saw menyampaikan ke pada sahabat dulu dan taman itu adalah Raudah.  Beribadah di salah satu taman surga? siapa yang tidak mau! jadilah ratusan bahkan ribuan jama'ah  berlomba-lomba  mengambil tempat di  Raudah yang memiliki karpet berwarna hijau (diluar Raudah warna karpetnya merah). Sungguh suatu perjuangan yang tidak ringan untuk hanya memperoleh tempat sholat di Raudah. Sesungguhnya keikhlasan dan persaudaran mendapat ujian di tempat tersebut, berlama-lama di Raudah adalah suatu kenikmatan tersendiri tapi tatapan dan permintaan jama'ah lain yang menunggu di pinggir Raudah semestinya menjadi alasan kuat untuk berbagi kesempatan kepada mereka.

Ada beberapa peristiwa khusus yang terjadi padanya selama beribadah di Masjid Nabawi. pertama, ada seorang anak kecil (usia sekitar 6 tahun) datang kepadanya dengan membawa beberapa untai tasbih berwarna putih. semula ia mengira anak tersebut akan menjual tasbih tersebut tapi dengan isyarat anak tersebut ternyata hendak memberinya salah satu dari tasbih yang dibawahnya. Alhamdulillah dan tanpa menunggu ucapan terima kasih, anak tersebut pergi meninggalkannya menyelinap diantara jamaah yang sedang itikaf. peristiwa berkutnya adalah ketika ia berada di Raudah. diantara para jama'ah yang berlama-lama berada di Raudah tiba-tiba dilihatnya seorang jama'ah dari luar wilayah Raudah datang membawa galon berisi air zam-zam dan setumpuk gelas plastik. Dengan sabar orang tersebut menawarkan gelas plastik dan mengisinya dengan air zam-zam kepada jama'ah yang sudah kehausan setelah sekian lama sholat, berdoa dan tilawah, karena diwilayah Raudah tidak tersedia kran air zam-zam. Beberapa jama'ah memberikan uang kepadanya tapi dengan tegas ditolaknya dengan isyarat ia memberitahukan bahwa aktivitasnya itu tidak ditujukan untuk mendapat uang tapi bagian dari ibadahnya.


Selama di Madinah ia pun berkesempatan mengunjungi Masjid Quba. Jika seorang keluar dari tempat tinggalnya di Madinah dan kemudian menuju Masjid Quba dan sholat sunnah di dalamnya maka hal itu bernilai sebagai ibadah umrah baginya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah kepada penduduk Madinah yang melihat betapa beruntungnya penduduk Mekkah karena dapat melakukan umrah sepanjang waktu. Tempat lainnya yang dikunjungi adalah Masjid Sab'ah diwilayah khandaq, kebun kurma dan makam Baqi yang terletak di sebelah Masjid Nabawi. di Baqi dimakamkan sejumlah sahabat , istri-istri dan putri nabi ra.

Setelah tiga hari di Madinah, perjalanan dengan bus kembali dilakukan untuk menuju ke Makkah Al Mukarramah. Perjalanan melintasi padang pasir membangkitkan kenangan perjalanan hijrah yang dilakukan para sahabat ra. dan kemudian Rasulullah saw. Badai pasir, panas yang membakar dan kejaran kafir Quraisy tidaklah dapat dibandingkan dengan perjalanannya dengan bus ber-AC tersebut. Rombongan singgah di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat umrah. Selepas memakai ihram, berniat dan melakukan sholat sunnah perjalanan kembali dilanjutkan. Rombongan tiba di Makkah sekitar pukul 11 malam, setelah singgah sejenak di hotel, rangkaian ibadah umrah pun dilaksanakan. Setiba di halaman Masjid Al Harram jama'ah berdoa dan kemudian sholat sunnah di dalam masjid. setelah berdoa ketika pertama kali melihat ka'bah jama'ah melanjutkan dengan melakukan tawaf. Subhanallah, pertama kalinya bertatap muka dengan Ka'bah, Rumah Allah yang dibina oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as.

 Tawaf dilakukan selama tujuh putaran dan dimulai setelah melalui sudut hajar aswad. Selama tawaf posisi ka'bah ada di sebelah kiri dan diperbolehkan berdoa apa saja atau mengikuti buku panduan umrah. khusus setelah melewati sudut Yamani sampai ke sudut Hajar Aswad disunnahkan membaca doa meminta kebaikan di dunia dan di akhirat dan meminta dijauhkan dari siksa api neraka. setelah tawaf dilaksanakan dilanjutkan dengan sholat sunnah di belakang maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim. Setelah minum air zam-zam, ibadah umrah dilanjutkan dengan Sa'i, berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah, sempat kehilangan rombongan tapi dapat bertemu lagi di akhir perjalanan sa'i. Setelah berdoa dan tahalul (memotong sedikit rambut) jama'ah kembali ke penginapan. Tepat di depan penginapan ia dan beberapa kawan sepakat mencukur habis rambut untuk mengikuti sunnah. Akhirnya dengan biaya 10 real per kepala beberapa kepala plontos dihasilkan malam itu. Seingatnya belum sekalipun pada masa dewasanya ia berani melicinkan kepala sebagai model cukuran rambutnya.

Perjalanan ini merupakan rihlah ruhiyyah baginya. Keinginanan kembali berkunjung ke kampung halaman Nabi saw. bersama keluarga dan orang tua membuncah setelah kembali ke tanah air. Mudah-mudahan Allah swt. menjadi saksi besarnya harapan itu dan  mengabulkannya. Amiin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar