Selasa, 09 November 2010

Kesungguhan Itu Tak Akan Mengecewakan


Muhammad Ihsan Fajar. Tetapi nama populer yang disematkan padanya adalah Ican. Ia pun tak merasa keberatan dengan panggilan itu pada awalnya. Tapi di kelas 3  ia mulai sedikit protes jika ku panggil dengan nama populernya. ”Saya kan sudah dewasa, tidak pantaslah dipanggil dengan nama tersebut, tidak enak lah!”.Ujarnya suatu ketika.
Posturnya tidak terlalu tinggi bahkan terhitung kecil dibandingkan dengan teman seangkatannya bahkan adik kelasnya tetapi semangat dan keteguhan hatinya untuk setiap hal yang diyakininya amatlah besar. Menuliskan tentang siswa yang satu ini bagi saya yang merupakan guru sekaligus wali kelasnya lebih didasarkan kepada sifat-sifat khas pada dirinya yang dapat memberikan inspirasi bagi teman-teman dan guru-gurunya dengan seganap kekurangan dan kelebihannya secara manusiawi tentunya.
Terus terang saja sebelum ”terpaksa” menuliskan dalam bentuk essai pada kesempatan ini, kisah mengenainya acap kali saya sampaikan baik kepada siswa maupun orang tua siswa yang putra-putrinya berangkat berada pada kondisi yang sama dengannya. Khususnya dalam hal pencapaian prestasi akademik.
Ada apa dengan Ican? eh...maaf Muhammad Ihsan Fajar? Sehingga sering menjadi rujukan saya dalam mengisahkan semangat dan keteguhan seorang siswa dalam menggapai cita-citanya? Ikuti kisahnya!
Sudah disebutkan di awal beberapa hal mengenai Ihsan tetapi perlu ditambahkan beberapa hal di sini. Ia tergolong siswa yang lugu menurut saya. Keluguannya tercermin dari responnya dalam menghadapi suatu peristiwa dan pilihan  kata-katanya dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Pernah suatu ketika ditanyakan kepadanya alasan ia tidak menggunakan ikat pinggang. Dengan tenangnya ia menjawab : ”Saya lupa pak. Lupa itu termasuk alasan syar’i kan pak. Insya Allah besok saya pakai pak? Jangan dihukum ya”. Yang jadi masalah lupanya memakai ikat pinggang kok sering sekali ya.
Di mata kawan-kawannya Ihsan menempati posisi tersendiri. Hampir setiap ia berkomentar di kelas maka serempak sorakan membahana membayanginya. Saya pikir keluguannya dalam berbicara dan air mukanya yang sering seperti salah tingkahlah yang membuat ia dijadikan sasaran tembak godaan kawan-kawannya. Meskipun demikian hal itu tidak menyurutkan dirinya untuk selalu mengekspresikan pendiriannya. Sehingga akan terasa sekali perbedaan suasana di kelas ketika kebetulan ia tidak hadir.
Dalam hal pencapaian prestasi akademik di kelasnya ia tidak termasuk siswa favorit guru dalam setiap pelajaran. Bahkan di tahun-tahun awal seingat saya sulit baginya mencapai peringkat papan tengah di antara teman-temannya. Meskipun demikian ketika menjelang penjurusan kelas IPA dan IPS terlihat beberapa perbaikan-perbaikan terjadi dalam dirinya yang memicu perbaikan nilai akademiknya. Frekuensi ibadahnya pun meningkat dan prilakunya menjadi lebih elok dimata para guru. Saya baru memahami perubahan tersebut katika dalam pertemuan dengan Ibunya saya mendapat informasi bahwa ia dijanjikan mendapat sepeda motor jika berhasil masuk jurusan IPA. Oh.. begitu toh. Setelah pembicaraan tersebut saya sempat berbicara dengan Ihsan. Saya katakan motivasi dari luar itu baik tapi alangkah baiknya jika motivasi itu dapat muncul dari dalam diri sendiri karena motivasi internal biasanya lebih kuat dan tahan lama, saya khawatir perbaikan ini hanya bersifat sementara. Sambil senyum-senyum ia menjawab; ” bukan saya yang minta dibelikan kok pak”.
Ternyawa kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Memang Ihsan berhasil menempati kursi jurusan IPA di kelas 2 tetapi raihan prestasi akademik  berikutnya tidak sebaik ketika menjelang penjurusan bahkan cenderung tertatih-tatih.  Beberapa diskusi dengannya semakin menjelaskan fenomena tersebut bahwa ia belum lagi menemukan motivasi yang kuat setelah menempati jurusan IPA. ”gak tahu nih pak mungkin nanti kalau di kelas 3 insya Allah tidak seperti ini lagi”, ujarnya ketika saya peringatkan kondisi belajarnya yang mulai tidak terarah. Saya ingat saat itu saya katakan padanya  bahwa jangan menyangka akan mudah naik kelas 3 jika kondisi belajarnya tidak membaik.
Alhamdulillah Ihsan naik ke kelas 3.
Di kelas 3 Ihsan mulai menata kembali motivasi dan pengaturan pola belajarnya. ”Saya ingin lulus dengan baik dan masuk jurusan Teknik Mesin” katanya ketika saya tanya target yang ingin dicapainya dikelas 3. Ternyata cita-cita ini benar tertanam di lubuk hatinya dan tergambar dalam prilaku belajarnya. Dia terlihat mulai serius belajar dengan fokus 3 mata pelajaran yang akan di ujikan pada UN. Ketika saya tanya persiapannya menghadapi UAS ia menjawab :”bukannya yang memeriksa soal UAS guru di sekolah sendiri pak? Masa sih sekolah tega anak didiknya tidak lulus gara-gara nilai UAS-nya?”. Saya agak marah saat itu dan menasehatinya agar tidak meremehkan pelajaran UAS dan hanya berpegangan pada asumsinya yang tidak berdasar tersebut. Saya ingatkan kasus tahun lalu bahwa ada siswa yang tertunda kelulusannya karena tidak lulus pada salah satu UAS Praktik. Ia pun berjanji untuk lebih bersungguh-sungguh.
Terus terang kami para guru sangat mengkhawatirkan ia dapat melampaui proses kelulusan tersebut. Namun, Alhamdulillah Ihsan akhirnya lulus UN dan UAS. Khusus untuk pelajaran UAS ia harus mengulang ujian salah satu mata pelajaran bersama seorang temannya untuk mencapai nilai standar kelulusan. Dan yang lebih mencengangkan kami para guru adalah ketika ia diumumkan termasuk siswa yang dapat meraih kursi di PTN untuk jurusan yang memang diminatinya. Subhanallah!
Muhammad Ihsan Fajar. Baru di bulan-bulan akhir kelas 3 menjelang kelulusannya saya memenggilnya Ihsan. Sering ia di daulat kawan-kawannya menyampaikan aspirasi mereka pada forum kultum di mushola Al A’raaf setelah sholat Dzuhur di tunaikan. Ucapannya lugas dan tidak terlalu memperdulikan respon pendengarnya baik siswa maupun guru selama ia yakin dengan apa yang ia disampaikannya. Satu waktu ia mengoreksi perilaku teman-tamanya dan sambil lalu ia mengingatkan kami para gurunya. Salah satu topik favoritnya dalam berkultum adalah menyampaikan kalimat motovasi dalam bahasa Arab. : ”Man jadda wa jada” yang pengertiannya adalah ”Siapa bersungguh-sungguh maka ia akan memperoleh hasil kesungguhannya”. Tema ini paling tidak tiga kali saya dengar darinya  ketika ia mendapat giliran berkultum. Singkat dan padat penjelasannya tetapi lain dari pada yang lain kesan yang saya dapat resapi dari kultumnya. Mungkin karena ia terasa begitu menghayati pesan rasulullah tersebut dan mudah-mudahan pesan itu pula yang memotivasi dirinya sehingga memperoleh cita-citanya.
Itulah sekelumit kisah tentang salah satu siswa SMA Islam Terpadu Nurul Fikri. Setiap siswa bagi gurunya adalan bongkahan emas yang mahal harga potensinya. Mereka adalah sumber inspirasi bagi kami para guru dan, khusus bagi saya, mereka adalah senantiasa menjadi alasan untuk tetap melangkah dengan sabar dan berkesadaran di dunia pendidikan ini. Kami menyebutnya berda’wah di dunia pendidikan. Dan setiap muslim adalah Da’i sebelum menjadi apapun.

1 komentar:

  1. baca ini jadi nangis, sedikit sekali orang yang bisa sepertinya. kebanyakan malah kerja keras terus namun akhirnya malah tak tercapai. Jadi termotivasi biar bisa optimis. Hehe....

    BalasHapus